Belajar dari pengalaman
November 19, 2008
Tadi makan siang saya jadi bulan-bulanan bahan ledekan dari teman-teman kantor. Mereka mentertawakan saya yang beli saham dan besok harinya harga turun. Semakin banyak mereka berkomentar, semakin tau saya bahwa mereka ‘hanya’ memahami pasar modal sebagai tempat nyari duit instant.
Jauh hari sebelum terjun ke pasar modal, saya sudah siap dgn segala resiko. Termasuk kondisi krisis global sekarang ini. Termasuk saham saya yg anjok hampir 95% nya. Dan resiko itu sudah saya pahami dan tak pernah satupun penderitaan batin yg saya alami. Karena horizon berinvestasi saya tetapkan untuk jangka panjang. Misalnya BUMI yg saya harapkan untuk mendapat income dari transaksi ternyata sudah terjungkal dan sekarat, seolah tak ada harapan lagi, tidak juga saya jual. Karena harapannya menjadi ditetapkan utk jangka panjang.
Dari pengalaman itu saya jadi punya sedikit tips. Minta maaf kalau memang terlihat dangkal. Mohon maklum karena memang saya investor kecil dan baru mencoba investasi di pasar modal.
1. Analisa fundamental perusahaan yang hendak di beli sahamnya. Coba ditelusuri paling tidak 3 tahun ke belakang.
2. Analisa teknikal yang lengkap seperti harga tertinggi dan terendah. Trend apa sekarang dan tentukan kapan harus beli.
3. Kumpulkan informasi pendukung lainnya dgn lengkap seperti kapan si perush akan bagi dividend. biasanya sebelum bagi dividen harga saham itu naik dan setelahnya bisa melorot.
4. Analisa data pasar seperti PER dan PBV dan bandingkan dgn perush yg satu domain dgn perush tsb. MIsalnya membandingkan GZCO dgn AALI. PBV yg satu artinya harga beli sudah sama dgn harga jual awalnya. PER berarti seberapa tahun lama kita bisa balik modal.
5. Sabar dan mengendalikan emosi. Kita bukan spekulan dan bukan investor yg ikut-ikutan. Kita punya prinsip sendiri dan sabar menanti waktu yg tepat.
Kalau misalnya saja indeks tetap turun terus, pasti setelahnya era bearish dan down trend segera berakhir. Meski menunggu sampai lama pun.